TextPattern: Percobaan Pertama
Okay, I’m so sorry for my english reader, but for this post, I prefer on using Bahasa Indonesia.
Percobaan pertama installasi TextPattern karena dari kemarin banyak sekali yang mencoba menginstall blog engine yang satu ini. Dari Andry , Thomas, dan digebah - gebah oleh Goz. Akhirnya, salah satu domain saya yang dulu diinstall wordpress harus dikorbankan (soalnya isinya juga masih belum jelas, sayang banget kalau blog yang ini yang dikorbankan).
Installasi
Installasi TextPattern lumayan mudah, bisa dibilang seintuitive WordPress. Mudah dan cepat, nothing more to say here karena memang mudah dan cepat (eh saya sudah bilang itu ya tadi?)
Setting Awal
Nah di sini masalah mulai menjemput dan menjelang. Mungkin karena saya sudah terlalu terbiasa menggunakan WordPress dimana template itu tinggal diupload ke folder theme dan langsung terlihat di administrasi situs. TxP tidak bekerja seperti itu tampaknya karena sudah saya udek - udek, tidak ada cara lain selain mengganti file - file desain saya secara manual. Akan sangat sulit bila nantinya saya ingin bergonta - ganti template dalam waktu yang singkat karena template saya yang dulu otomatis hilang.
Mungkin ada cara yang lebih elegan dalam menginstall template yang saya belum tahu (mungkin bisa diberikan informasi?). Tetapi yang pasti, administrasi template WordPress jauh lebih mudah dan sederhana.
Lain halnya dengan administrasi plugin. Pada TxP, kita cukup meng-copy kode dari plugin tersebut dan paste di kolom admin. Simpel dan mudah. Kemudahannya hanya dapat ditandingi oleh Joomla/Mambo yang installasi pluginnya cukup dengan upload file melalui interface web (tanpa FTP seperti di WP).
Untuk overall backend administrationnya sendiri sih saya lebih suka dengan WordPress. Memang agak bloated tampaknya, tapi sangat nyaman untuk newbie dan untuk blogger - blogger yang tidak terlalu mengerti hal - hal teknis. Bila dibandingkan dengan TxP, jelas, WordPress menang jauh, apalagi kini ada fasilitas penambahan kategori langsung melalui menu “Write” yang menyingkat waktu, apalagi dengan tambahan AJAX.
Atau mungkin memang saya mendapatkan kesan seperti itu karena saya sudah cukup lama berkecimpung dengan WordPress (well who knows?).
Satu lagi, tak lengkap tampaknya sebuah script open source tanpa komunitasnya. Komunitas WordPress dan komunitas TxP sama - sama memiliki basis masa yang kuat. Tetapi jujur saja, saya lebih menyukai komunitas WordPress. Hal ini sebagian besar didasari pada script yang mereka gunakan. Begitu ringkas dan simpel tanpa harus mengorbankan keindahan (anda akan tahu apa yang saya maksud bila mencoba membandingkan dua situs tersebut).
Untuk keaktifan komunitasnya sendiri saya belum bisa membandingkan karena saya belum pernah mencoba aktif di komunitas TxP. Komunitas WordPress sendiri sepengalaman saya, sangat friendly dalam menjawab pertanyaan - pertanyaan saya dalam tenggat waktu yang wajar (biasanya sih dalam sehari ada 4 atau 5 orang yang mereply dengan solusi atas masalah saya). Tapi kalau lagi apes, ya sampe jungkir balik juga engga ada yang reply.
Overall, kedua blog engine ini memiliki kemampuan untuk berkembang walaupun untuk saat ini saya melihat WordPress (despite its bloated features and spam problem etc) adalah the clear winner sebagai blogging platform untuk khalayak luas karena kemudahan dan kecantikan desain yang dimiliki (dan kayaknya basis masanya juga lebih besar ya?).
Pilihan ada di tangan anda. :-)



/me juga pakai textp sejak lama , memang belum di pakai untuk blog, tapi seluruh tulisan di Wp blog sudah terimport ke txp blog.
setuju dengan kemudahan Wp dalam meng handel themes, namun txp lebih luwes dalam penulisan themes. tidak banyak orang paham kode PHP loh :)
saya akan beralih ke txp dalam waktu dekat.
Komunitas wp lebih kuat dan besar serta responsable di bandingkan TXp , ya karena jumlah pengguna yg lebih banyak.
TXP hanya populer di kalangan web designer saja ( hicksdesign.co.uk , joshuaink.com atau 38one.com , kebanyakan dari tanah inggris, di asia bisa si itung dengan jari. )
:)