Rejeki Nomplok
Jum’at adalah hari favorit saya nyaris setiap minggu. Beberapa alasan yang menyertainya antara lain bahwa hari Jumat adalah hari suci umat Islam dan juga film - film yang tayang pada Jumat malam biasanya bagus - bagus. Dari The Apprentice, CSI, Indonesian Idol, dan masih banyak lagi acara lainnya.
Selama beberapa minggu terakhir, ada sebuah acara yang benar - benar menarik perhatian saya yaitu Rejeki Nomplok. Acara ini mengambil format reality show, mirip - mirip dengan salah satu acara yang digawangi oleh Helmy Yahya yang berpakaian tuxedo hitam. Bedanya, acara ini dipandu oleh Peggy Melati Sukma dan lebih banyak mengambil sisi manusiawi dari ‘rakyat jelata’-nya.
Walaupun menurut saya orang - orang kecil yang akhirnya mendapat rejeki nomplok tersebut masih merupakan bentuk eksploitas (e.g. menjual kemiskinan demi rating, etc), tetapi saya tetap menjadikan tayangan tersebut sebagai tayangan rutin setiap Jumat malam.
Terlepas dari motif - motif kapitalistik yang berada di belakang pembuatan acara tersebut, sang produser tampaknya berusaha untuk mengambil satu sisi yang berbeda dari kemanusiaan di layar televisi. Seperti pada hari ini, Pak Tompel Saefullah (kalo ga salah namanya itu), menjadi seorang yang beruntung mendapatkan Rejeki Nomplok.
Pak Tompel adalah seorang penjual Selendang Mayang (nama sebuah makanan, I don’t know how it looks or tastes like) sejak tahun 1969. Kini ia memiliki 4 orang putri dan 2 orang putra yang harus diberi nafkah setiap hari. Dari logatnya, saya yakin bahwa Pak Tompel ini adalah orang betawi asli.
Setiap harinya beliau berjualan dari pagi hingga sore, bahkan kadang - kadang malam. Di hari - hari melelahkannya itu, Pak Tompel masih harus berhadapan dengan petugas tramtib, preman - preman, dan juga resiko dagangan yang tidak laku. Keuntungan yang dapat dibawa pulang setelah hari yang panjang tersebut? Hanya Rp10.000.
Sangat kontras sekali bila dibandingkan dengan laporan salah satu LSM pengamat korupsi polisi. Mereka mengklaim bahwa banyak pejabat polisi yang memiliki rekening yang range-nya berkisar antara Rp3 Miliar hingga Rp800 miliar. Tentu saja, uang di rekening tersebut bukanlah uang halal.
Inilah cerita tentang Pak Tompel yang tetap miskin karena mengais nafkah yang halal. Inilah cerita bangsa kita.



Zzie,
Butuh waktu buat ngelurusin benang kusut. Gw percaya suatu saat yg kayak beginian pasti akan beres jg. Mungkin gak di era gw. Mungkin di angkatan loe kali. Bruntunglah masa perubahan itu terjadi sekarang. Btw, segala bentuk exploitasi manusia gw gak suka. :) Peace!