One Night Success
Cepet kaya,
Kata itu banyak berdengung di milis - milis yang gw ikutin akhir - akhir ini. Manusia memang pengen semuanya yang serba cepet, serba instan. Cepat kaya, cepat dewasa, cepat saji, cepat cepat dan lebih cepat lagi.
Dari MLM yang nawarin bisa punya kapal pesiar, mobil, dan rumah mewah (untung aja ga sampe nawarin istri super model), sampe internet marketing-nya si Anne Ahira yang kalo menurut gw adalah sebuah bentuk pyramid scheme/money game.
Kalau mendengar kata - kata cepat, gw jadi keinget sama fim trilogi Lord of the Rings. Pas pertama kali gw ngedenger proses shootingnya yang sekitar 12 - 13 bulan, gw berkata dalam hati, “Hm… cukup lama juga yah shootingnya, ampe setaun lebih gitu.” Ternyata abis gw nonton “The Making of” dalam DVD-nya selama 6 jam non-stop, gw baru tau kalau ternyata film itu dibuat dalam waktu 7 tahun.
7 tahun dan bukannya 13 bulan. Bila 13 bulan aja udah kita bilang lama, gimana dengan yang 7 tahun? Peter Jackson mengerjakan proyek yang sama terus menerus selama 7 tahun tanpa henti and here I am, ngebeli dvd bajakan hasil keringetnya dia (aaah… very shameful of me).
But of course, gw jamin bahwa kebanyakan orang bakal ngeliat hanya bagian ketika film tersebut menyapu bersih semua penghargaan Oskar (er… I mean Oscar) dalam satu malam. And everybody thinks that they can have an overnight success atau sukses dalam satu malam (banyak nih bukunya… coba aja cari di toko buku). They don’t see the pain they endure during that bloody 7 years in the making. Kurang tidur hampir tiap malem, keluarga yang keputus hubungannya (khusus bwat yang ini, gw inget ada seorang creative director yang sampe harus ninggalin anaknya selama 4 tahun! Pas anaknya masih bayi sampe anaknya dah 4 taunan gitu), breakups, makeups, and other very very emotional things.
Cerita pembuatan lord of the rings yang begitu massive juga lah yang nyadarin gw, bahwa ga ada itu kesuksesan dalam satu malam. Ada seorang pesepakbola yang waktu itu sedang naik daun (gw lupa siapa) diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi. Kira - kira bunyinya gini:
“Anda telah terpilih menjadi pemain muda terbaik versi majalah xxxx, apa yang anda rasakan?” Reporternya bertanya.
“Well, sukses ini memang saya raih dalam semalam tetapi membutuhkan 15 tahun persiapan sebelumnya.”
The conversation is not actually like that but it’s close. The point is, there is no overnight success, and even if there is, you need a long preparations for it (which concludes that there is no one night success story).
Kalau kita bandingkan Pete (yang udah ngabisin 7 tahun hidupnya ngerjain sebuah film yang pada awalnya impossible bwat dikerjain dan berjuang demi kesempurnaan) dan pemain sepakbola itu (yang skinned his hearts and skinned his knees for 15 years)– kita sebut saja pihak A, dengan mental kaum muda masa kini, sebut saja pihak B, kita bisa ngelihat ada satu faktor pembeda diantara mereka.
Di satu sisi, pihak B is doing everything they can to do things instantly. Instantly buat apa? Ya for the money donk. Masa gw bisa dapet 3,3 juta dollar hanya dengan mengklik iklan aja. Mimpi kali yeah. Atau lo lagi beruntung ketiban lotere… Sedangkan di sisi lain ada pihak A yang menjalani hidup bukan karena uang-nya. But for the love of the game. Pete membuat LotR untuk memuaskan sisi fantasi yang sejak dulu ia idam-idamkan. Sang pemain bola, bermain bukanlah agar mendapatkan award atau uang, melainkan play the ball to his feet take him.
That’s what I’m trying to do now. Money is important. Naif banget kalo ada orang yang bilang dia ga butuh duit. Gw mau beli MiniMac kudu pake duit, gw pengen ngisi bensin kudu pake duit, gw mau pipis kudu pake duit juga. Everything is about money in this world and that’s where Pete and this footballer are different. Di dunia yang everything about money, mereka bekerja bukan untuk itu, melainkan hal lainnya yang lebih besar daripada duit.
Can we all do that?
Duh ngomong apa sih gw… masih siang tapi kok dah ga nyambung…


